Skincare dan Kosmetik : Industri Glowing yang Sedang Growing

Penulis : Zaid Ali
Tanggal : 17 September 2023

Banyak artis di Indonesia saat ini sedang merambah ke dunia bisnis, salah satunya di industri skincare dan kosmetik. Beberapa artis ternama seperti Raisa memiliki brand skincarenya sendiri dengan nama Raine Beauty, Luna Maya dengan brand NAMA Beauty, Inul Daratista dengan produknya yang Bernama Inul Beauty, bahkan hingga Ivan Gunawan yang juga memiliki produk skincare dengan brand Ivan Gunawan Cosmetics. Di samping itu, masih banyak lagi artis-artis di Indonesia yang terjun ke industri skincare dengan brand miliknya sendiri. Selain artis, industri skincare tersebut juga sangat diminati oleh para UMKM lokal. Alhasil, industri kosmetik dan skincare saat ini mengalami pertumbuhan yang sangat cepat. Menurut data dari BPOM RI, industri kosmetik di Indonesia mengalami kenaikan jumlah perusahaan hingga 20,6 persen pada tahun 2022. Sebanyak 819 industri kosmetik mengalami pertambahan menjadi 913 industri semenjak 2021 hingga Juli 2022. Pertumbuhan industri tersebut didominasi oleh UMKM, yaitu sebesar 83%.

Pertumbuhan industri skincare dan kosmetik ini tentunya dilatarbelakangi oleh meningkatnya tren penggunaan skincare di Indonesia, apalagi setelah pandemi Covid-19 dimana Masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan kulit. Hal ini terlihat dari angka penjualan tiap tahunnya yang terus meningkat. Berdasarkan data yang dilansir oleh Laman Katadata.co.id, pada tahun 2022 lalu pendapatan di pasar Kecantikan & Perawatan Diri mencapai US$7,23 miliar atau Rp111,83 triliun (dengan kurs 1 dollar sebesar Rp15,467.5). Pasar ini diperkirakan akan terus tumbuh setiap tahunnya sebesar 5,81% hingga tahun 2027 ke depan, sebagaimana grafik berikut.

Sumber :  databoks.katadata.co.id

Apabila dilihat dari sisi perilaku konsumen, meningkatnya kesadaran dalam merawat kulit ikut mendorong frekuensi pembelian produk perawatan kulit dasar (basic skincare), mulai dari serum wajah, pelembab kulit, krim tabir surya, hingga masker pengelupas kulit. Berdasarkan hasil survei Populix yang dilansir dari laman dataindonesia.id, sebanyak 45% dari total 1000 responden yang berusia 18-55 tahun di Indonesia membeli basic skincare sebulan sekali. Sebanyak 23% responden membeli basic skincare dengan frekuensi kurang dari sebulan sekali. Ada pula 12% responden yang membeli basic skincare setiap hari. Lalu, responden dengan frekuensi pembelian basic skincare 2 hingga 3 kali per bulan sebanyak 8%.  Sebanyak 5% responden membeli basic skincare dalam jangka waktu 2-3 kali per minggu. Terdapat 4% responden yang membeli basic skincare sekali seminggu. Sedangkan, 3% responden membeli basic skincare dalam 4-6 kali per minggu.

Prospek industri skincare ini ke depannya juga bisa dibilang sangat menjanjikan. Sebab, terdapat pemahaman pada sebagian besar perempuan Indonesia yang mendefinisikan cantik dengan memiliki kulit yang cerah dan glowing. Selain itu, segmen terbesar konsumen produk skincare di Indonesia ini adalah dari kalangan anak muda. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh ZAP Clinic pada tahun 2020, perempuan dari Gen Z (13-22 tahun) menghabiskan hampir seluruh pendapatan mereka untuk perawatan kecantikan, dengan pengeluaran antara satu sampai dua juta rupiah. Sementara Gen Y (23-44 tahun) hanya 30% dan Gen X (45-65 tahun) hanya  menggunakan kurang dari 5% pendapatannya untuk membeli produk-produk kecantikan. Apabila kita korelasikan segmentasi ini dengan bonus demografi yang akan dialami oleh Indonesia beberapa tahun ke depan, tentunya Generasi Z ini akan menjadi target pasar terbesar skincare dan kosmetik di Indonesia.

Peluang besar di pasar skincare tersebut sudah mulai terlihat dari saat ini. Itulah sebabnya, banyak artis-artis dan para pelaku UMKM yang sudah mulai merambah ke bisnis skincare dengan membuat brand miliknya sendiri. Meskipun demikian, tidak semua brand skincare tersebut melakukan proses produksinya sendiri. Sebab, proses produksi barang-barang kesehatan seperti skincare tidaklah mudah. Diperlukan berbagai sertifikasi dan kompetensi khusus untuk bisa memproduksi skincare. Itulah sebabnya kebanyakan dari produk skincare yang saat ini bermunculan memulai bisnisnya dengan menggunakan jasa maklon dari perusahaan lain. Dengan menggunakan jasa maklon, pelaku bisnis dapat memproduksi brand skincare miliknya sendiri tanpa harus terlebih dahulu mengurus perihal perizinan, standard produksi, dll. Sebab, hal-hal tersebut telah ditanggung oleh pihak jasa maklon. 

Pemilihan jasa maklon pun harus menjadi perhatian khusus bagi para pelaku bisnis skincare. Sebab, dengan memilih perusahaan yang tepat untuk jasa maklon, akan menentukan keberhasilan dan keberlanjutan bisnis skincare yang anda bangun. Dalam hal ini, Nectars menjadi pilihan paling tepat bagi pelaku bisnis skincare dalam melakukan produksi. Dengan berbagai pengalaman serta raihan sertifikasi dan kompetensi, Nectars menawarkan produksi skincare dengan kualitas terbaik. Tidak adanya minimal kuantitas pemesanan memungkinkan para pelaku bisnis untuk memulai usahanya dari skala terkecil sekalipun. 

Referensi : 

https://modest.id/news/potret-perilaku-kecantikan-perempuan-indonesia-dalam-zap-beauty-index-2019

https://www.parapuan.co/read/533693132/5-brand-kecantikan-milik-artis-indonesia-yang-viral-di-tiktok?page=all

https://dataindonesia.id/ragam/detail/sebanyak-45-masyarakat-indonesia-beli-skincare-sebulan-sekali

https://zapclinic.com/blog/beauty/zap-beauty-index-2020/215

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/12/05/makin-meroket-pendapatan-produk-kecantikan-dan-perawatan-diri-di-ri-capai-rp11183-triliun-pada-2022 https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20221104104902-33-385138/industri-kecantikan-tahan-krisis-laris-manis-meski-pandemi


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top